Oleh Mohammad Y Fachri
“Orang-orang kafir bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kiamat, kapankah terjadinya? Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktu)-nya? Kepada Tuhan-mu lah dikembalikan kesudahan (ketentuan waktunya). Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari kiamat). Pada hari mereka melihat kiamat itu, mereka seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di sore atau pagi.” (QS An Naazi’aat [79]:42-46)
Musibah itu terjadi, semua berjalan sesuai Sunatullah (ketentuan/kaidah yang telah Allah SWT tetapkan). Ada yang selamat dan ada yang harus direlakan untuk kembali kepada Yang Maha Hidup. Pemilik segala kehidupan. Bumi yang berputar adalah Sunnatullah. Demikian juga ketika Allah menetapkan bahwa bagian barat pantai Sumatera adalah lempeng atau patahan yang dapat menyebabkan gempa. Demikian di pulau jawa yang padat penduduknya ini terdapat lebih dar 30 gunung berapi yang aktif dan siap memuntahkan isi perutnya sewaktu-waktu.
Kita terkadang salah dalam menempatkan sebuah kejadian. Ketika musibah datang, kita katakan itu adalah sebuah Sunnatullah, sebuah 'sebab dan akibat' dari apa yang kita lakukan. Tapi ketika hujan yang turun membawa kesejukan dan kesuburan tanah kita, atau angin yang berhembus yang merupakan spektrum frequency bagi kita untuk berkomunikasi antar sesama, kita mungkin lupa menyebut semua itu juga adalah Sunnatullah.
Dapatkah kita Bayangkan jika kejadian-kejadian di muka bumi terjadi tidak mengikuti Sunnatullah? Matahari terbit sesuka hatinya dan Bulan muncul menurut kehendaknya. Hal yang menyebabkan kekacauan hari dan musim yang ada di muka bumi.
Allah ‘Azza wa Jalla menetapkan Sunatullah agar manusia dapat mengambil hikmah daripadanya dalam mempertahankan hidupnya di dunia ini. Sunnnatullah adalah sebuah system kehidupan yang dapat diteliti dan ditelaah dengan seksama yang pada akhirnya akan memberi sebuah ketetapan pasti yang kita sebut ‘hukum alam’. Allah ingin melihat bagaimana kita ‘berproses’ dalam Sunatullah yang Dia tetapkan untuk kita. Ketika Sunatullah itu membawa kebaikan bagi kita, apakah kita bersyukur? Dan ketika Sunatullah itu membawa musibah bagi kita apakah kita bersabar? Adakah kita selalu baik sangka terhadap Sunatullah yang Allah ‘Azza Wa Jalla tetapkan? Apakah kita selalu mengambil pelajaran dan mempersiapkan diri terhadap Sunatullah tersebut? Hal inilah sebenarnya yang harus kita tanyakan ke diri kita dan bukan menyalahkan saudara-saudara kita dengan memvonis mereka akan kesalahan yang belum tentu mereka lakukan.
Dalam zaman yang begitu modern dan dipenuhi dengan kecanggihan ini, kita selalu ingin semua kejadian di depan dapat diprediksi agar kita dapat mempersiapkan diri dengan baik. Manusia modern banyak menggantungkan hidupnya pada ‘prakiraan’. Kita amat berharap ahli-ahli geologi akan menemukan suatu alat untuk memprediksi sebuah gempa akan terjadi. Dan juga kita amat mengharapkan ahli-ahli geofisika dapat memprediksi kapan hujan akan turun dengan pasti. Dapatkah semua itu terjadi?
Dalam beberapa ayat Al Quran, Allah menyebutkan ‘Kiamat’ adalah sebuah peristiwa yang penuh dengan ‘goncangan’ yang berarti dengan keadaan yang menyulitkan dan huru-hara. Hal ini Allah jelaskan pada ayat QS An Naa’ziaat diatas. Tidak ada yang dapat menyebutkan kapan peristiwa Kiamat itu akan terjadi. Dan kita sadari atau tidak, 'Gempa Bumi' adalah sebuah miniatur dari peristiwa kiamat tersebut. Tidak ada seorang ahli pun dapat memprediksi kapan terjadinya. Gempa bumi adalah sebuah goncangan yang mengingatkan manusia betapa tidak berharganya apa yang ia miliki di dunia ini dan dapat binasa dalam sekejap. Sebuah goncangan yang walaupun dalam skala kecil, membawa manusia dalam kepanikan dan huru-hara. Dalam sebuah riwayat Rasulullah saw menyatakan bahwa salah satu tanda kiamat itu adalah banyaknya terjadi gempa bumi yang penuh dengan goncangan itu.
Ketika seorang teman itu tetap bertanya, “Jadi kenapa gempa yang begitu dahsyat itu harus terjadi disini dan menjadi musibah bagi saudara-saudara kita yang muslim? Kepada siapa peringatan Allah itu ditujukan?"
“Allah Yang Maha Tahu”. Kita hanya dapat bercermin dari begitu banyak perjalanan hidup hamba-hamba Allah di dalam Al Quran. Dimulai dari Adam as yang ketika sudah merasa mapan di dalam surga harus terusir, Nuh as yang berdakwah 900 tahun tanpa memiliki pengikut kecuali hanya sebahagian kecil dari keluarga dan kerabatnya, Ibrahim as yang terus menerus mendapat ujian dan harus menempatkan keluarganya di tempat terpisah yang awalnya tandus dan sepi untuk membangun kembali Baitullah, Musa as yang mendapat begitu banyak ujian dari kaumnya setelah mereka terbebas dari kekuasaan Firaun, Sulaiman as seorang yang sangat berkuasa harus kehilangan kekuasaannya dalam beberapa saat, Yusuf as yang mendekam di penjara karena fitnah dan Rasulullah saw yang hidup dalam kesulitan dan kesusahan diawal masa kenabian dan harus berperang dan banyak bersabar dimasa tinggal di Madinah.
Semua itu mengajarkan kepada kita bahwa ‘kemapanan’ adalah hal yang mustahil bagi seorang hamba Allah yang hidup di muka bumi ini. Ujian datang silih berganti. Kemapanan akan membawa kepada kelalaian yang cenderung melupakan dan menghanyutkan. Berapa banyak umat-umat terdahulu Allah berikan azab hanya karena 'kemampanan' yang mereka rasakan sehingga mereka lalai dan membangkang terhadap perintah Allah SWT. Salah satunya, kita dapat bercermin kepada ummat Nabi Syuaib, penduduk kota Madyan yang juga disebut penduduk Aikah yang selalu curang dalam menakar dan menimbang. Mereka merasa mapan dengan keadaan mereka dan mengabaikan pesan amar ma’ruf nahi munkar dari nabi Allah Syu’aib (QS Hud 84-95)
Bukankah seharusnya kita bersyukur bahwa Allah masih saja memperingatkan kita? Sebuah pesan yang bagi saudara-saudara kita yang tertimpa mushibah amat berat untuk dicerna dan diterima. Sebuah pesan yang juga membawa kepiluan bagi kita yang melihatnya dan linangan air mata dalam menuliskan tulisan ini. Inilah momentum bagi kita untuk berbagi, baik membantu secara langsung dengan tenaga ataupun materi serta berdoa memanjatkan harapan ‘Azza Wa Jalla memberi limpahan kesabaran bagi saudara-saudara kita. Saling berpesan dalam kebenaran dan kesabaran. Allah telah berpesan pada kita. Sebuah pesan yang amat gamblang bahwa kehidupan dunia ini adalah sementara sifatnya dan kiamat itu pasti datang tanpa kita dapat memprediksinya. Jangan pernah merasa mapan terhadap apa yang kita peroleh di dunia ini karena kemapanan itu akan mengantarkan kita kepada sebuah kelalaian.
Seorang sahabat Nabi pernah bertanya, “Ya Rasulullah, berilah aku sebuah pesan yang dengan pesan itu cukup bagiku untuk menjalani kehidupan ini.” Nabi menjawab, “Besungguh-sungguhlah kamu dalam ketaqwaan kepada Allah dan beserah dirilah terhadap segala ketentuan Allah (istiqamah).” (HR Abu Daud)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar