Senin, 22 Juli 2013

Keutamaan Sholat Subuh

By on May 21, 2013 
 
shalat shubuh

BETAPA takutnya para rabbi Yahudi terhadap orang Islam yang senantiasa menunaikan shalat shubuh berjamaah di masjid. Memang shalat shubuh menyimpan satu kekuatan yang luar biasa. Shalat shubuh adalah ibadah fardhu paling berat, dikarenakan, bayangkan, ketika tengah terlelap, kita dibangunkan untuk menunaikan panggilan Allah SWT.

Namun shalat shubuh juga menyimpan berbagai keutamaannya. Berikut di antaranya:

1). Shalat Subuh adalah Faktor dilapangkannya Rezeki
“Hai Fathimah, bangun dan saksikanlah rezeki Rabbmu, karena Allah membagi- bagikan rezeki para hamba antara shalat Subuh dan terbitnya matahari,” (H.R. Baihaqi).

2). Shalat Subuh Menjaga Diri Seorang Muslim
“Barangsiapa melaksanakan shalat Subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah, maka jangan sampai Allah menarik kembali jaminan-Nya kepada kalian dengan sebab apapun,” (H.R.Muslim).

3). Shalat Subuh adalah Tolak Ukur Keimanan
“Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Kami melaksanakan shalat Subuh berjamaah bersama Nabi dan tidak ada yang ikut serta selain orang yang sudah jelas kemunafikannya,” (H.R. Muslim).

4). Shalat Subuh adalah Penyelamat dari Neraka
“Tidak akan masuk neraka, orang yang melaksanakan shalat sebelum matahari terbit dan sebelum tenggelamnya,” (H.R. Muslim)

5). Shalat Subuh Lebih Baik daripada Dunia dan Seisinya
“Dua rakaat shalat Subuh, lebih baik daripada dunia dan seisinya,” (H.R. Muslim).

Inilah sebagian sisi yang menggambarkan betapa utama dan nikmatnya shalat Subuh dan bertasbih di waktu Shubuh. []

Keajaiban Sholat Subuh

Sholat subuh yang jumlah roka'atnya yakni 2 roka'at memiliki rahasia-rahasia dahsyat yang secara garis besarnya antara lain untuk jasmani (kesehatan), rohani, dan kesuksesan hidup. Sebagai mana dalam hadits berikut ini, Rasulullulah SAW bersabda : “ Dua rokaat Shalat Subuh lebih baik daripada dunia dan seisinya. ” (HR. Muslim)


Nah, sekarang adalah waktu yang tepat bagi kita untuk mengetahui beberapa keajaiban manfaat sholat subuh, simak berikut ini :

Manfaat sholat subuh dari sisi Jasmani (kesehatan) 
 
Kegiatan bangun pagi untuk melakukan aktifitas sholat subuh mampu menormalkan kinerja syaraf dan otak, di dukung dengan kondisi pagi hari memiliki kadar ozon (O3) yang cukup tinggi suhingga mampu membantu kinerja syaraf dan otak, serta mengurangi penyumbatan pembuluh darah yang mengakibatkan terjadinya serangan jantung Serta sholat subuh memiliki manfaat yang mengejutkan yakni berpotensi membawa kita menuju kesuksesan dalam hidup, sebab saat pagi hari sampai datangnya fajar adalah waktu dimana pintu-pintu rezeki dibuka lebar oleh Allah SWT.
 
Oleh sebab demikian, setelah melaksanakan sholat subuh yang memang terkadang kita merasa masih ngantuk dan ingin melanjutkan tidur sejenak, maka usahakanlah sebisa mungkin menahan diri untuk melanjutkan tidur, sebaliknya sangat dianjurkan untuk melanjutkan kesigiatan sholat tersebut seperti dengan berdzikir atau berdo'a.


Manfaat sholat subuh dari sisi rohani
 
Sholat Subuh mempunyai banyak keutamaan, di antaranya menyelamatkan dari azab, mendapat pahala setara pahala orang yang melaksanakan haji dan umrah, terbebas dari api neraka, terhindar dari kemunafikan, serta mendapat perlindungan dari Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, “ Berpagi-pagilah kalian dalam menunaikan Shalat Subuh karena itulah pahala yang paling mulia. ” (HR. Turmudzi).

Itulah sedikit informasi yang saya ketahui dari beberapa sumber, apabila Anda menginginkan bacaan yang lebih jelas dan lengkapnya silakan Anda melakukan pencarian di Google atau saya merekomendasikan sebuah buku yang berjudul Dahsyatnya Shalat Subuh karya Yusuf Ghazali, buku setebal 142 halaman tersebut diterbirkan oleh Abdika Press yang dilengkapi dengan berbagai bacaan do'a dan dzikir yang biasa dibacakan setelah sholat subuh, termasuk tatacara Rasulullah Muhammad SAW melaksanakan sholat subuh, woow,, keren kan???

Keutamaan Sholat Shubuh


Shubuh adalah salah satu waktu di antara beberapa waktu, di mana Allah Ta’ala memerintahkan umat Islam untuk mengerjakan shalat kala itu. Allah Ta’ala berfirman,

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

 Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh tu disaksikan (oleh malaikat).
(Qs. Al-Isra’: 78)

Betapa banyak kaum muslimin yang lalai dalam mengerjakan shalat shubuh. Mereka lebih memilih melanjutkan tidurnya ketimbang bangun untuk melaksanakan shalat.  Jika kita melihat jumlah jama’ah yang shalat shubuh di masjid, akan terasa berbeda dibandingkan dengan jumlah jama’ah pada waktu shalat lainnya.


Keutamaan Shalat Shubuh

Apabila seseorang mengerjakan shalat shubuh, niscaya ia akan dapati banyak keutamaan. Di antara keutamaannya adalah

 (1) Salah satu penyebab masuk surga

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّة

Barangsiapa yang mengerjakan shalat bardain (yaitu shalat shubuh dan ashar) maka dia akan masuk surga.” (HR. Bukhari no. 574 dan Muslim no. 635)

 (2) Salah satu penghalang masuk neraka

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَنْ يَلِجَ النَّارَ أَحَدٌ صَلَّى قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا

Tidaklah akan masuk neraka orang yang melaksanakan shalat sebelum terbitnya matahari (yaitu shalat shubuh) dan shalat sebelum tenggelamnya matahari (yaitu shalat ashar).” (HR. Muslim no. 634)

 (3) Berada di dalam jaminan Allah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى صَلَاةَ الصُّبْحِ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ فَلَا يَطْلُبَنَّكُمْ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ فَإِنَّهُ مَنْ يَطْلُبْهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ يُدْرِكْهُ ثُمَّ يَكُبَّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ

Barangsiapa yang shalat subuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu jangan sampai Allah menuntut sesuatu kepada kalian dari jaminan-Nya. Karena siapa yang Allah menuntutnya dengan sesuatu dari jaminan-Nya, maka Allah pasti akan menemukannya, dan akan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim no. 163)

 (4) Dihitung seperti shalat semalam penuh

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ

Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.” (HR. Muslim no. 656)

 (5) Disaksikan para malaikat

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَتَجْتَمِعُ مَلَائِكَةُ اللَّيْلِ وَمَلَائِكَةُ النَّهَارِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ

 “Dan para malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada shalat fajar (subuh).”
(HR. Bukhari no. 137 dan Muslim no.632)


Ancaman bagi yang Meninggalkan Shalat Shubuh

Padahal banyak keutamaan yang bisa didapat apabila seseorang mengerjakan shalat shubuh. Tidakkah kita takut dikatakan sebagai orang yang munafiq karena meninggalakan shalat shubuh? Dan kebanyakan orang meninggalkan shalat shubuh karena aktivitas tidur.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

Sesungguhnya shalat yang paling berat dilaksanakan oleh orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak.” (HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651)

Cukuplah ancaman dikatakan sebagai orang munafiq membuat kita selalu memperhatikan ibadah yang satu ini. Semoga Allah selalu memberi hidayah kepada kita semua, terkhusus bagi para laki-laki untuk dapat melaksanakan shalat berjama’ah di masjid.

Penulis: Wiwit Hardi Priyanto


Sabtu, 20 Juli 2013

Mukjizat Sholat di Malam Hari



Qiyam adalah aktivitas ibadah shalat di malam hari. Shalat harus dilakukan dengan berdiri (qiyam). Di bulan Ramadhan, shalat taraweh disebut qiyamullail (berdiri di malam hari), sedangkan di luar Ramadhan adalah shalat tahajjud.

Hakikat Qiyam atau sholat malam adalah bangun dan tegak lurus sambil berdiri beribadah kepada Allah. Jika di siang hari kita melakukan puasa (shiyam) itu adalah manajemen syahwat, maka di balik kata Qiyam (sholat malam) dapat pula kita maknai sebagai manajemen ibadah.

Terdapat tiga prinsip dasar dalam memaknai sholat malam dalam arti manajemen ibadah. Pertama, tegak lurus berdiri beribadah pada Allah. Kedua, kesiapan diri meluruskan dan menyatukan semua orientasi hidup dan aktivitas hidup dari bermacam-macam menjadi hanya kepada Allah dan untuk Allah semata.

Inilah inti komitmen yang selalu kita baca ketika membaca do’a iftitah dalam sholat (QS. Al-Am’aan (6) : 161-163]. Ketiga, mengelola ibadah berdasarkan aturan, sistem, dan ketentuan Allah, baik tujuannya, caranya maupun skala prioritasnya.

Mukjizat ibadah Ramadhan akan kita rasakan jika berbagai ibadah tersebut kita kelola dan kerjakan bedasarkan tiga prinsip dasar tersebut di atas. Sebab itu ibadah Qiyam Ramadhan (sholat malam) adalah lambang kesiapan kita untuk berdiri dan mengemban semua amanah dan kewajiban yang Allah pikulkan ke pundak kita semasa kita hidup di dunia ini.

Kita tidak punya pilihan selain memikulnya. Ini adalah bukti bahwa kita adalah hamba-Nya yang tidak punya daya dan upaya sedikitpun di hadapan kehendak dan kemauan-Nya.

Sesungguhnya amanah dan kewajiban yang dibebankan Allah kepada kita adalah sebuah kemuliaan dan perdagangan yang selalu untung dan tidak pernah rugi. Amanah memahami, mengamalkan, dan memperjuangkan Al-Qur’an agar menjadi the way of life kita dan manusia lainnya.

Amanah shalat, amanah pengorbanan dengan harta dan mencari solusi kesulitan ekonomi masyarakat dan berbagai amanah lainnya, seperti dijelaskan Allah dalam kitab-Nya :

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitah Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezki yqng kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharap perniagaan yang tidak akan merugi, (29) agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri (30)” {QS. Fathir (35) : 29-30}

Sholat malam di bulan Ramadhan adalah lambang kesiapan kita untuk selalu mengoreksi dan meluruskan orientasi hidup kita yang di siang hari bisa saja terpengaruh oleh berbagai godaan dan janji kosong setan dan kemilau kehidupan dunia. Atau bisa juga disebabkan keras dan kejamnya sistem hidup yang ada dalam masyarakat dan pemerintahan yang ada sehingga hidup ini terasa amat sulit dan penuh kezaliman.

Sebab itu, Ramadhan mengajarkan kita untuk mengoreksi dan meluruskan orientasi hidup itu setiap malam. Targetnya adalah agar kita memiliki karakter yang kuat dalam menghadapi percaturan hidup ini sehingga orientasi hidup kita tetap terpelihara dan tidak condong serta mengarah kepada selain Allah.

Karena perubahan orientasi hidup kepada selain Allah, atau kecenderungan kepada selain Allah akan mengakibatkan perubahan jalan hidup yang di tempuh. Inilah yang kita minta selalu dalam shalat fardhu maupun sholat malam Ramadhan dan di luar Ramadhan :

Tunjukilah kami ke jalan yang lurus (6), yaitu jalan orang yang tidak Engkau murkai atas mereka, dan tidak pula jalan hidup orang yang tersesat (7).” [QS. Al-Fatihah (1): 6-7]

Sesungguhnya perubahan orientasi hidup kepada selain Allah adalah kekufuran dan kemusyrikan yang akan menghancurkan hidup kita baik di dunia maupun di akhirat. Komitmen untuk tetap menjaga orientasi hidup hanya untuk Allah merupakan komitmen yang selalu kita ucapkan saat kita Qiyamullail dan juga Shalat lainnya :

“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta Alam (162) Tiada sekutu hagiNya; dan demikian itulah yang diperinlahkan kepadaku dan aku adalah orang yang perlama-tama menyerahkan diri (kepada Allah). (163)” {QS. Al-An’am (6) : 162-163}

Qiyam Ramadhan juga lambang kesiapan kita untuk mengikuti berbagai ibadah dan sistem hidup yang Allah Syari’atkan berdasarkan tujuan dan niat, cara dan skala prioritas yang Allah tetapkan dan Rasulullah contohkan.

Jangan ada satupun ibadah yang kita lakukan, baik fardhu maupun yang sunnah, baik yang fardhu ‘ain maupun yang fardhu kifayah yang melenceng niatnya kepada selain Allah, seperti shalat untuk terhindar dari tekanan darah tinggi, shaum untuk mendapat tubuh yang langsing, infaq untuk menjadi kaya, dan qiyamullail agar berwibawa dihadapan manusia, menegakkan hukum Allah (syari’at Islam) untuk berkuasa dan sebagainya.

Semua ibadah dan ketaatan harus ditujukan hanya mencari ridha Allah. Kebaikan-kebaikan yang muncul dalam diri dan kehidupan duniawi sebagai buah dari ibadah tak lain hanya bonus duniawi yang Allah berikan. Sebab itu jangan tertipu oleh bonus-bonus duniawi itu, karena jika dibandingkan dengan imbalan akhirat berupa syurga-Nya, tentulah tidak ada artinya.

Dan mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan demikian itulah agama yang lurus.” {QS. Al-Bayyinah(98): 5}

Qiyam Ramadhan juga sarana pelatihan diri kita untuk melakukan semua ibadah sesuai dengan yang Allah syari’atkan dan Rasulullah ajarkan. Jangan sampai dalam melakukan ibadah. baik wajib maupun sunnah keluar dari kaifiyat (tata cara)-nya yang telah dicontohkan Rasul Saw.

Di samping itu Qiyam Ramadhan mengajarkan kita untuk selalu mengikuti semua ibadah dan sistem hidup yang Allah syari’atkan dan Rasulullah amalkan berdasarkan urutan dan prioritasnya. Jangan sampai melaksanakan shalat idul fitri dan idul adha lebih semangat ketimbang shalat jum’at.

Jangan sampai shalat taraweh lebih semangat kita kerjakan ketimbang shalat fardhu berjamaah di masjid lima kali dalam sehari semalam. Jangan sampai infaq lebih semangat kita lakukan ketimbang menunaikan zakat dan begitulah seterusnya.

Qiyam Ramadhan mengajarkan dan melatih kita untuk mendahulukan amal-amal yang wajib dari amal-amal yang sunnah dan fardhu ‘ain sebelum fardhu kifayah. Namun demikian bukan berarti kita mencukupkan amal ibadah kita pada yang wajib saja dan tidak tertarik melakukan yang sunnah (nawafil).

Keduanya harus kita kerjakan dengan ikhlas dan bcrsungguh-sungguh. Karena urutan untuk mencapai kedekatan dan kasih sayang Allah adalah dengan memulai amalan atau ibadah yang wajib (fardhu), kemudian di teruskan dengan yang sunnah. Dalam sebuah hadist Qudsi di jelaskan :

Sesungguhnya Allah herfirman: “Barang siapa yang memusuhi wali-Ku maka sungguh Aku umumkan perang atasnya. Dan tidak ada jalan yang dilakukan hamba-Ku dalam rangka mendekatkan diri pada-Ku lebih aku cintai selain dari apa yung Aku fardhukan atasnya. Apabila hamba-Ku terus menerus melakukan pendekatan diri (taqarrub) kepada-Ku dengan amalan yang nawafil (sunnah) sampai Aku mencintainya. Bila Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya bila ia mendengar, penglihatannya bila ia melihat, tangannya bila ia memikul, kakinya apa bila ia berjalan dan apabila ia meminta pasti akan aku kabulkan dan apabila ia meminta perlindungan pasti akan aku lindungi. Tidak ada sedikitpun Aku melakukan sesuatu seperti keraguan-ku (mencabut) jiwa (nyawa) seorang Mukmin yang membenci kematian, sedangkan Aku tidak mau menyakitinya.” (HR. Imam Bukhari).

Hadits Qudsi tersebut dcngan tegas menyatakan bahwa :
  1. Dalam melakukan ibadah kepada Allah atau menerapkan sistem hidup yang disyari’atkan-Nya kepada kita haruslah dengan prinsip prioritas. Sedangkan prinsip prioritas itu harus menurut Allah itu sendiri.
  2. Untuk dapat mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ilallah) harus dimulai dari apa yang Allah wajibkan pada kita, baik terkait dengan individu, rumah tangga, masyarakat maupun sistem hidup dalam pemerintah.
  3. Untuk mendapat kasih sayang Allah (menjadi wali Allah), amal-amal yang bersifat sunnah seperti, shalat sunnah, shaum sunnah dan sebagainya, haruslah menjadi kebiasaan (habit) yang dilakukan tanpa mengenal waktu dan kondisi. Pelaksanaannya melekat dalam diri, sama halnya dengan ibadah-ibadah fardhu yang lain.
  4. Karena ibadah sunnah sangat banyak dan luas jangkauannya, maka setiap kita hendaklah memulai dari ibadah sunnah yang Allah mudahkan dan kemudian dikembangkan kepada ibadah-ibadah sunnah lainnya. Kita harus mengetahui potensi diri kita terkait dengan ibadah sunnah. Setelah diketahui, hendaklah dilakukan secara terus menerus (mudawamah), karena terus menerus menjadi syarat untuk mcndapatkan kasih sayang Allah.
  5. Apabila kita komitmen menjalankan yang fardhu (wajib), kemudian diteruskan dengan amal ibadah yang sunnah secara kontinyu, maka peluang kita mendapat kasih sayang Allah sangatlah besar. Atau dengan kata lain, peluang menjadi wali Allah sangat terbuka lebar.
  6. Bila seorang Mukmin telah meraih kedekatan dan kasih sayang Allah, saat itulah ia menjadi wali Allah. Kemenangan dan kebahagiaan dunia dan akhirat akan menyertainya.
Sumber: Mukjizat Ibadah Ramadhan oleh ust. Fathuddin Ja’far

Keutamaan Sholat Tarawih Malam Pertama sampai Malam Ketigapuluh

Dari Ali bin Abi Thalib ra bahwa dia berkata: Nabi SAW ditanya tentang keutamaan-keutamaan tarawih di bulan Ramadhan. Kemudian beliau bersabda:
 
1.         Orang mukmin keluar dari dosanya pada malam pertama, seperti saat dia dilahirkan oleh ibunya.
 
2.         Dan pada malam kedua, ia diampuni, dan juga kedua orang tuanya, jika keduanya mukmin.
 
3.         Dan pada malam ketiga, seorang malaikat berseru dibawah ‘Arsy: “Mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang telah lewat.”
 
4.         Pada malam keempat, dia memperoleh pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Furqan (Al-Quran).
 
5.         Pada malam kelima, Allah Ta’ala memeberikan pahala seperti pahala orang yang shalat di Masjidil Haram, masjid Madinah dan Masjidil Aqsha.
 
6.         Pada malam keenam, Allah Ta’ala memberikan pahala orang yang berthawaf di Baitul Makmur dan dimohonkan ampun oleh setiap batu dan cadas.
 
7.         Pada malam ketujuh, seolah-olah ia mencapai derajat Nabi Musa a.s. dan kemenangannya atas Fir’aun dan Haman.
 
8.         Pada malam kedelapan, Allah Ta’ala memberinya apa yang pernah Dia berikan kepada Nabi Ibrahin as
 
9.         Pada malam kesembilan, seolah-olah ia beribadat kepada Allah Ta’ala sebagaimana ibadatnya Nabi saw.
 
10.      Pada Malam kesepuluh, Allah Ta’ala mengaruniai dia kebaikan dunia dan akhirat.
 
11.      Pada malam kesebelas, ia keluar dari dunia seperti saat ia dilahirkan dari perut ibunya.
 
12.      Pada malam keduabelas, ia datang pada hari kiamat sedang wajahnya bagaikan bulan di malam purnama.
 
13.      Pada malam ketigabelas, ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari segala keburukan.
 
14.      Pada malam keempat belas, para malaikat datang seraya memberi kesaksian untuknya, bahwa ia telah melakukan shalat tarawih, maka Allah tidak menghisabnya pada hari kiamat.
 
15.      Pada malam kelima belas, ia didoakan oleh para malaikat dan para penanggung (pemikul) Arsy dan Kursi.
 
16.      Pada malam keenam belas, Allah menerapkan baginya kebebasan untuk selamat dari neraka dan kebebasan masuk ke dalam surga.
 
17.      Pada malam ketujuh belas, ia diberi pahala seperti pahala para nabi.
 
18.      Pada malam kedelapan belas, seorang malaikat berseru, “Hai hamba Allah, sesungguhnya Allah ridha kepadamu dan kepada ibu bapakmu.”
 
19.      Pada malam kesembilan belas, Allah mengangkat derajat-derajatnya dalam surga Firdaus.
 
20.      Pada malam kedua puluh, Allah memberi pahala para Syuhada (orang-orang yang mati syahid) dan shalihin (orang-orang yang saleh).
 
21.      Pada malam kedua puluh satu, Allah membangun untuknya sebuah gedung dari cahaya.
 
22.      Pada malam kedua puluh dua, ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari setiap kesedihan dan kesusahan.
 
23.      Pada malam kedua puluh tiga, Allah membangun untuknya sebuah kota di dalam surga.
 
24.      Pada malam kedua puluh empat, ia memperoleh duapuluh empat doa yang dikabulkan.
 
25.      Pada malam kedua puluh lima , Allah Ta’ala menghapuskan darinya azab kubur.
 
26.      Pada malam keduapuluh enam, Allah mengangkat pahalanya selama empat puluh tahun.
 
27.      Pada malam keduapuluh tujuh, ia dapat melewati shirath pada hari kiamat, bagaikan kilat yang menyambar.
 
28.      Pada malam keduapuluh delapan, Allah mengangkat baginya seribu derajat dalam surga.
 
29.      Pada malam kedua puluh sembilan, Allah memberinya pahala seribu haji yang diterima.
 
30.      Dan pada malam ketiga puluh, Allah ber firman : “Hai hamba-Ku, makanlah buah-buahan surga, mandilah dari air Salsabil dan minumlah dari telaga Kautsar. Akulah Tuhanmu, dan engkau hamba-Ku.”
 
Akhirnya, semoga amal ibadah kita diterima dan kita mendapatkan pangkat dan derajat dari Allah sebagai seorang yang bertakwa. Sumber Hadist dari Kitab Duratun Nasihin, Bab Keistimewaan Bulan Rama