Kamis, 17 Februari 2011

Belajar dari Dana Persepuluhan Gereja

baru masuk

Anas bin Malik radhiya’l-lahu ‘anh meriwayatkan: “Rasulullah tidak pernah diminta sesuatu oleh yang baru masuk Islam, melainkan beliau memberikannya. Sungguh telah datang seorang peminta-minta kepada beliau. Nabi memberinya kambing dalam jumlah seperti antara dua bukit. Orang itu kembali pada kaumnya dan memberitahukan: “Hai kaumku, masuk Islamlah kalian, karena Muhammad suka member! pemberian, seperti orang yang tidak takut miskin. Sungguh dahulunya, seseorang masuk Islam, tidak lain karena ingin dunia. Tapi tidak lama kemudian ia mendadak cinta kepada Islam melebihi dunia dan segala isinya.” (HR. Muslim [2312]).

Hadits di atas adalah bagian dari metode dan strategi da’wah Nabi s.a.w, yakni memenuhi hajat ummat melalui ketersediaan dana da’wah bagi banyak kepentingan atau hajat syar’iyah. Dari mana diambilkan? pertama dari kantong Nabi s.a.w sendiri, menyusul dari dapur ummattul mu’minin, dari orang-orang dekat Nabi dari sahabat Muhajirin dan Anshar, selain dari Baitul Mal waz Zakah atau terkadang melalui sistem penawaran sebagai hasil penempaan tarbiyah ruhiyah Rasulullah s.a.w, seperti ditunjukan oleh hadits Asma’ binti Abi Bakar as-Shiddiqrahiya’1-lahu ‘anhumaia berkata: Rasulullah s.a.w bersabda kepadaku:
Janganlah engkau selalu menutupi kepunyaanmu, nanti Allah akan menutupi rezkimu” Dalam riwayat lain: “Infaqkanlah atau berikanlah atau lepaskanlah, jangan kau hitung. Supaya Allah tidak main hitung-hitungan terhadapmu, dan jangan kau takar, agar Allah tidak membatasi rezkimu. ” (Muttafaq ‘alaih. Bukhari [3/238; 5/160-161]; Muslim [1029]).

Para Sahabat penyandang dana da’ wah ini dulunya terkenal dengan sebutan al- Abrar (kelompok orang yang berbakti) atau ahlu dutsur bil ujur (pemilik bonus pahala). Gelar ini pernah disematkan pada Nabi Ibrahim kaitannya dengan tingkat kepeduliaan beliau pada kaumnya (HR.Thabarani, As-Suyuthi. al-Jdmi’ as-Shaghir [3/ 2781]. Di zaman Nabi s.a.w mereka dinamakan dengan al-Abrar, karena kebaikan mereka terhadap orang tua, istri dan putera/i mereka juga sahabat dan kerabat dekat mereka. Semua hak-hak mereka tertunaikan dengan baik sesuai porsi hak masing-masing (HR.Thabarani dalam al-Kabir dari Ibnu ‘Umar. Suyuthi. al-Jdmi’ as-Shaghir [2/2592]).

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani mengomentari, hadits di atas merupakan larangan menahan diri dari shadaqah karena khawatir kehabisan bekal penghidupan. Ketahuilah bahwa, kekhawatiran demikian adalah salah satu sebab terbesar yang berpotensi memutus keberkahan rezki. Allah memberi nikmat terhadap manusia, tanpa hitung-hitungan dan memberi ganjaran pahala tanpa mematok-matok. Siapa yang berpikir cerdas, bahwa Allah s.w.t senantiasa memberikan rezki-Nya dari arah yang tidak disangka-sangka (Qs.65:3), niscaya ia akan mengeluarkan harta, juga, tanpa hitung-hitungan. (Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Fath, kitab az-Zakat, bab: at-tahrish ala as-shadaqah wa asy-syafa’ah fiyha, Juz III).

Al-Qur’an mengumpamakan penyandang dana ini “ibarat sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian perbuat.” (Qs.2:265)

Imam Nawawi (w. 676 H) menjelaskan, ada banyak ajaran Islam yang tidak bisa terlaksana, tanpa adanya ketersediaan dana, walaupun dana bukan segalanya atau meskipun masih bisa diganti dengan alternatif lain berdasarkan prinsip tidak ada rotan, akar pun jadi, tidak ada air (wudhu’) tanah pun jadi. Meskipun demikian, dana tetap menjadi tulang punggung dunia pergerakan.

Dana da’wah diperlukan untuk menjadi day a dorong pelaksanaan program, menjadi dayapanggil bagi jama’ah pemula, menjadi pengikat bagi para mu’ allaf yang baru masuk Islam, menjadi obat penawar bagi jama’ah yang punya hajat, seperti hajat pendidikan, hajat kesehatan dan hajat-hajat syar’iyah lainnya seperti urusan lahir, nikah dan kematian. Kelemahan gerakan da’wah Islamiyah sekaligus menjadi kelebihan da’wah missionaris dan menjadi daya tarik laju perkembangan aliran sesat, berpusat pada penyediaan dan pengelolaan dana.

Di zaman kenabian, infaq dan shadaqah adalah alat da’wah yang paling efektif membantu dana perjuangan. Tidak sedikit dari as-Sabiqunal Awwalun (generasi awal ummat ini, Qs.9:100) yang masuk Islam setelah dibebaskan dari perbudakan dan hatinya diikat oleh fadhilah infaq. Hari ini, tidak sedikit pula dari kaum Muslimin yang murtad atau menggadaikan keyakinannya, karena menejemen infaq yang kurang terurus. Sebab, hanya dengan kekuatan infaq dan shadaqahlah kita bisa mewujudkan kembali “jihad ekonomi”, kita dapat memerangi pemurtadan, kebodohan, penanggulangan bencana, membantu daerah konflik, menyantuni yatim-piatu, jompo dan bea siswa. Termasuk yang paling pokok, menggerakkan roda kegiatan da’wah, menggairahkan geliat kehidupan da’i dan elemen pendukung da’wah di lapangan dalam usaha pencerdasan ummat, yang pada umumnya terasa lumpuh, karena faktor dana.

Di mana letak masalahnya? Akar masalahnya lebih pada rendahnya tingkat kesadaran para jama’ah yang selama ini kurang disentuh oleh para agamawan melalui paket kegiatan dan program da’wah. Karena pengalaman membuktikan, kapan ada program dan kegiatan diselenggarakan, di sana para jama’ah ikut andil membantu, meskipun dengan batas kemampuan yang ada atau kendati sebatas bantuan tenaga dan pikiran semata. Lemahnya manajemen pengelolaan dana ikut memperparah keterbatasan suplay dana da’wah di lembaga-lembaga keummatan.

Dana Da’wah Zending Yahudi

Butir 3 Protokolat Yahudi berbunyi: “Kekuatan uang selalu bisa mengalahkan segalanya. Agama yang bisa menguasai rakyat pada masa lalu, kini mulai digulung dengan kampanye kebebasan. Namun rakyat banyak tidak tahu harus mengapa dengan kebebasan ini. Inilah tugas konspirasi untuk mengisinya demi kekuasaan, dengan kekuatan uang.

Bagaimana Dengan Dana Persepuluhan Gereja? 

Dana persepuluhan gereja ada tiga: Persepuluhan pertama adalah untuk keimamatan (Kohanim), dan jatuhnya sebagai milik pusaka, karenanya sering disebut cukai bait Allah. (Bilangan: 18:26). Dana Persepuluhan kedua digunakan untuk perayaan-perayaan di tempat yang telah dikhaskan bagi tujuan missionaris bagi golongan fakir-miskin (Ulangan 14:22-23). Ada lagi persepuluhan tambahan, yang dikenal dengan persembahan, yang dipungut pada petang sabat dan hari minggu. (IKorintus 16:2-4).
Dana Persepuluhan ini secara wajib ‘ain dikeluarkan 3 kali setahun, bukan sekali setahun seperti zakat fitrah. Dalam Ulangan 16:16-17 dijelaskan: “Tiga kali setahun setiap orang laki-laki di antaramu harus menghadap hadirat TUHAN, Allahmu, ke tempat yang akan dipilih-Nya, yakni pada hari raya Roti Tidak Beragi, pada hari raya Tujuh Minggu dan pada hari raya Pondok Daun. Janganlah ia menghadap hadirat TUHAN dengan tangan hampa, tetapi masing-masing dengan sekedar persembahan, sesuai dengan berkat yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.

Para rohaniawan mereka berpesan, “iman dalam pembayaran persepuluhan dan persembahan harus tetap meningkat sekalipun keadaan ekonomi kita terbatas. Karena dengan demikian kita dapat maju dalam segala, dapat membangunan gedung-gedung pertemuan serta bait suci-bait suci, dengan program pendidikan kita yang besar, yang berbagai kegiatannya banyak bergantung pada pendapatan persepuluhan Gereja. Saya menjanjikan kepada Anda bahwa kita tidak akan pernah membuat Gereja berhutang. Kita akan dengan ketat merancang program sesuai dengan pendapatan persepuluhan serta menggunakan dana yang kudus ini untuk tujuan-tujuan yang dirancang oleh Tuhan Yesus“.

Bagaimana geliat gerakan da’wah? Pasca perang salib yang terjadi selama 200 tahun itu (abad 11-13 M) praktis gerakan da’wah tertatih-tatih menghadapi tantangan da’wah yang tidak setara dengan kemampuan finansial yang ada. Karena itu, jika jama’ ah tidak bahu-membahu, para pengurus dan imam masjid tidak berbenah diri, dan lembaga da’wah tidak melakukan tertib pengelolaan dana-dana da’wah, maka jangan heran jika pihak-pihak lain, seperti non-muslim, aliran sesat, dan partai-partai berhaluan kiri membalap bahkan mengembosi kita dari belakang.

Sumber : Buletin Dakwah No.08 Thn. XXXV Jum’at ke-4 22 Februari 2008

Teladan dari Dua Umar


Mendengar kata kata sang Badui, Umar bersumpah tidak akan memakan lemak sampai semua orang hidup seperti biasa. Ucapannya benar benar dibuktikan. Kata-katanya diabadikan sampai saat ini, "Kalau rakyatku kelaparan, aku ingin orang pertama yang merasakannya...
----------

Teladan dari Dua Umar

Umar bin Abdul Aziz membersihkan kedua tangannya. la berdiri. Di depannya nampak makam Sulaiman bin Abdul Malik, khalifah Bani Umayyah sebelumnya. Berdasarkan wasiat al marhum, Umar bin Abdul Aziz menduduki jabatan khalifah. Baru saja Umar bangkit berdiri, tiba-tiba ia mendengar suara riuh. "Ada apa?", tanya Khalifah kedelapan Bani Umayyah itu heran.

"Ini kendaraan Anda, wahai Amirul Mukminin," ujar salah seorang sambil menunjuk sebuah kendaraan mewah yang khusus disiapkan untuk sang khalifah.

Dengan suara gemetar dan terbata bata karena kelelahan dan kurang tidur, Umar berkata, "Apa hubungannya denganku? Jauhkanlah kendaraan ini. Se¬moga Allah memberkahi kalian." Lalu ia berjalan ke arah seekor keledai yang menjadi tunggangannya selama in!

Baru saja ia duduk di atas punggung hewan itu, serombongan pengawal datang berbaris mengawal di belakangnya. Di tangan masing masing tergenggam tombak tajam mengkilat. Mereka siap menjaga sang
khalifah dari marabahaya.

Melihat keberadaan pasukan itu, Umar menoleh heran dan berkata, "Aku tidak membutuhkan kalian. Aku hanyalah orang biasa dari kalangan kaum Muslimin. Aku berjalan pagi hari dan sore hari sama seperti rakyat biasa."

Selanjutnya, Umar berjalan bersama o¬rang prang menuju masjid. Dari segala penjuru orang orang pun berdatangan. Ketika mereka sudah berkumpul, Umar bin Abdul Aziz berdiri. Setelah memuji Allah dan ber¬shalawat pada Nabi dan para sahabatnya, ia berkata, 'Wahai manusia, sesungguhnya aku mendapat cobaan dengan urusan ini (khilafah) yang tanpa aku dimintai persetujuan terlebih dulu, memintanya atau pun ber¬musyawarah dulu dengan kaum Muslimin. Sesungguhnya, aku telah melepaskan baiat yang ada di pundak kalian untukku. Untuk selanjutnya silakan pilih dari kalangan kalian sendiri seorang khalifah yang kalian ridhai.'

Mendengar ucapannya itu, orang orang pun berteriak dengan satu suara, "Kami telah memilihmu, wahai Amirul Mukminin. Kami ridha terhadapmu. Aturlah urusan kami dengan karunia dan berkah Allah.'

Banyak hal yang bisa kita teladani dari sikap hidup Umar bin Abdul Aziz. Selain sikap zuhud dan kesederhanaan, kita juga belajar wara' (menjauhi syubhat). Kisah dirinya ketika memadamkan lampu minyak saat menerima kedatangan anaknya, diabadikan oleh sejarah. la tak mau menggunakan fasilitas negara untuk keperluan pribadi atau keluarga.

Kits bandingkan dengan sikap pemimpin saat ini. Sulit membedakan mana harta mereka pribadi dan mana milik pemerintah. Berapa banyak para pejabat yang tetap menggunakan fasilitas negara saat kampanye yang nota bene untuk kepentingan sendiri.

Begitu pun setelah mereka berkuasa. Bahkan, mereka yang selama ini dikenal dekat dengan rakyat menjadi jauh. Akibatnya, mereka sendiri merasa tidak aman. Kemana pun pergi selalu dijaga ketat oleh para pengawal.

Kenyataan ini akan sangat bertolak belakang jika kita tengok jauh lagi ke belakang. Pada akhir abad 17 Hijriyah, misalnya. Saat itu kaum Muslimin sebenarnya sedang menikmati kemenangan pasukan mereka di Irak dan Syam. Namun di tengah kegembiraan itu, mereka dikejutkan oleh datangnya musim kemarau berkepanjangan. Selama sembilan bulan hujan tak turun. Bumi gersang dan penuh debu. Hewan dan tanaman menjadi korban.

Kondisi Madinah tak terlalu buruk. Di bawah pemerintahan Umar bin Khaththab, Khalifah Kedua setelah Rasulullah saw wafat, penduduk Madinah dibiasakan menyimpan makanan. Akibatnya, dari berbagai daerah masyarakat datang berbondong bondong, mengungsi di kota Nabi itu. Selama beberapa saat Madinah bisa bertahan. Tapi lama kelamaan penduduknya makin tertekan. Mereka mulai kekurangan bahan makanan. Lalu apa yang dilakukan Umar bin Khaththab kala itu?

Ketika kelaparan mencapai puncaknya, Umar pernah disuguhi remukan roti yang dicampur samin. Umar memanggil seorang Badui dan mengajaknya makan bersama. Umar tidak menyuapkan makanan ke mulutnya sebelum Badui itu melakukannya lebih dahulu. Orang Badui sepertinya benar benar menikmati makanan itu. "Agaknya, Anda tak pernah mengenyam lemak?" tanya Umar.

"Benar," kata Badui itu. "Saya tak pernah makan dengan samin atau minyak zaitun. Saya juga sudah lama tidak menyaksikan orang orang memakannya sampai sekarang,” tambahnya.

Mendengar kata kata sang Badui, Umar bersumpah tidak akan memakan lemak sampai semua orang hidup seperti biasa. Ucapannya benar benar dibuktikan. Kata-katanya diabadikan sampai saat ini, "Kalau rakyatku kelaparan, aku ingin orang pertama yang merasakannya. Kalau rakyatku kekenyangan, aku ingin orang terakhir yang menikmatinya," ujar Umar.

Padahal, saat itu Umar bisa saja menggunakan fasilitas negara. Kekayaan Irak dan Syam sudah berada di tangan kaum Muslimin. Tapi tidak. Umar lebih memilih makan bersama rakyatnya.

Kita diberikan pelajaran sangat berharga oleh dua Umar. Dengan meneladani kehidupan dua khafrfah itu, para pemimpin akan merasakan penderitaan rakyat. Perasaan inilah yang akan melipatgandakan perjuangannya. Bagaimana mungkin seorang pemimpin akan bisa berjuang kalau ia sendiri tak merasakan apa yang dirasakan rakyatnya. Sikap zuhud dan kedekatan dengan rakyat ini akan menenteramkan masyarakat. Kedekatan pada rakyat akan melahirkan kecintaan. Bayangkan dengan diri Rasulullah saw. Bagaimana mungkin rakyat tidak dekat dengannya kalau menjelang ajal pun beliau masih menyebut nyebut, "Ummati, ummati, ummati (umatku, umatku, umatku)." Kepedulian Rasulullah saw pada umatnya nyaris tak berbalas.

Kecintaan inilah yang akan menciptakan rasa aman. Kedekatan dengan rakyat berbanding lurus dengan tingkat kenyamanan seorang pemimpin. Semakin dekat dirinya dengan rakyat, semakin tinggi juga tingkat rasa aman dirinya. Inilah yang menjelaskan mengapa kedua Umar, baik Umar bin Abdul Aziz maupun Umar bin Khaththab tak pernah mau dikawal. Mereka tak memerlukan pengawal karena merasa dirinya aman. Mereka terbiasa berkeliling di tengah gelapnya malam. Mereka juga biasa tidur tiduran di tempat umum. Tak ada rasa takut dan khawatir dalam diri mereka. Penyebabnya: mereka berlaku adil, bersih, dekat dengan rakyat, maka rakyat pun mencintainya.

[Sabili]

Ramlah binti Abi Sufyan (Ummu Habibah)

Tetapi putrinya sendiri, Ramlah alias Ummu Habibah, telah mematahkan kekuasaan dan kepemimpinan tersebut secara terang-terangan. Ramlah keluar dari agama berhala yang dianut bapaknya, lalu dia dan suaminya, Ubaidillah bin Jahsy, beriman kepada Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, serta membenarkan kerasulan Nabi-Nya, Muhammad bin Abdullah...
----------

"Ummu Habibah lebih mengutamakan Allah dan Rasul-Nya di atas segala-galanya. Dia benci kembali menjadi kafir, sebagaimana setiap orang benci dilemparkan ke neraka," kata ahli-ahli sejarah.

Tiada pernah terlintas dalam pikiran Abu Sufyan bin Harab akan ada orang Quraisy yang berani keluar dari genggaman kekuasaannya, terutama mengenai soal-soal yang sangat prinsipil. Karena, dia penguasa dan pemimpin Makkah. Segala peraturan yang digariskannya dilaksanakan dengan patuh.

Tetapi putrinya sendiri, Ramlah alias Ummu Habibah, telah mematahkan kekuasaan dan kepemimpinan tersebut secara terang-terangan. Ramlah keluar dari agama berhala yang dianut bapaknya, lalu dia dan suaminya, Ubaidillah bin Jahsy, beriman kepada Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, serta membenarkan kerasulan Nabi-Nya, Muhammad bin Abdullah. Abu Sufyan telah berupaya dengan segala kekuasaan dan kekuatan yang ada padanya untuk mengembalikan putrinya suami-istri ke agama nenek moyang mereka yang menyembah berhala. Tetapi, dia tidak pernah berhasil. Karena iman yang terhunjam ke dalam kalbu Ramlah sangat dalam dan terlalu kokoh untuk dapat dicabut atau digoyahkan oleh angin puting beliung dan badai kemarahan Abu Sufyan.

Abu Sufyan mendapat kesulitan besar karena Ramlah masuk Islam. Dia bingung bagaimana seharusnya menghadapi kaum Quraisy. Padahal, putrinya sendiri tidak dapat ditundukkannya di bawah kemauannya. Dan, bagaimana seharusnya menetapkan garis demarkasi antara Quraisy dan kaum muslimin pengikut Muhammad.

Tatkala kaum Quraisy mengetahui Abu Sufyan marah terhadap putrinya suami istri, mereka pun ikut-ikutan memarahi keduanya. Mereka malah bertindak mengejek, menghina, bahkan menyaikiti keduanya. Sehingga, akhirnya mereka berdua tidak betah tinggal di Mekah.

Setelah Rasulullah saw. mengizinkan kaum muslimin hijrah ke Habasyah, Ramlah dan anak perempuannya, Habibah, yang masih kecil, beserta suaminya, Ubaidillah bin Jahsy, termasuk rombongan yang pertama-tama hijrah. Mereka pergi meninggalkan kampung halaman, membawa iman dan agamanya ke bawah perlindungan Najasy, raja Habasyah.

Abu Sufyan bin Harb dan para pemimpin Quraisy lainnya merasa mendapat pukulan berat dengan lolosnya kaum muslimin dari tangan mereka. Karena di Habasyah kaum muslimin dapat menikmati kebebasan dan ketenteraman melaksanakan ajaran agama tanpa suatu gangguan. Lalu, dikirimnya suatu delegasi menghadap Najasyi untuk mempengaruhi raja tersebut, dan menuntut supaya menyerahkan kembali kepada Quraisy kaum muslimin yang hijrah ke Habasyah. Mereka mengatakan kepada Najasyi, kaum muslimin menghina Isa Al-Masih dan ibunya dengan penghinaan yang menyakitkan.

Najasyi memanggil para pemimpin muhajirin, menanyakan kepada mereka hakikat ajaran Islam, terutama mengenai Isa Al-Masih dan ibunya, Maryam. Bahkan, raja meminta supaya dibacakan kepada baginda ayat-ayat Alquran yang telah diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad saw.

Setelah hakikat Islam dan beberapa ayat Alquran dibacakan, Najasyi menangis bercucuran air mata hingga membasahi jenggotnya.
Kemudian Najasyi berkata, "Agama yang diturunkan kepada Nabi kalian dan yang diturunkan kepada Isa Ibnu Maryam, kedua-duanya, berasal dari satu sumber."

Lalu, dia menyatakan dirinya beriman kepada Allah Yang Maha Esa yang tiada sekutu bagi-Nya, serta mengakui kenabian Muhammad saw. Tetapi sayang, para pemimpin Habasyah lainnya masih enggan menerima Islam menjadi agama mereka, walaupun mereka dengan ikhlas melindungi kaum muslimin tinggal di Habasyah. Mereka tetap menganut agama Nasrani menjadi agama mereka.

Setelah tiba di Habasyah, Ummu Habibah optimis akan segera menikmati masa cerah, sesudah lama mengalami hari-hari nan suram. Perjalanan berat penuh kesulitan telah membawanya ke tempat yang aman. Namun, dia tidak tahu apa yang bakal terjadi di hadapannya.

Kebijakan Allah yang penuh barakah dan kebajikan menghendaki untuk menguji iman Ummu Habibah dengan ujian-ujian yang maha berat. Orang-orang pintar sekalipun sulit menebaknya. Kemudian, Allah mengeluarkannya dari ujian tersebut sebagai pemenang, dan akan menempatkannya di puncak tertinggi.

Pada suatu malam Ummu Habibah bermimpi dalam tidurnya. Dia melihat suaminya, Ubaidillah bin Jahsy, mendapat kecelakaan di lautan nan gelap dan bergelombang besar gulung-bergulung. Keadaannya sangat menghawatirkan. Ummu Habibah terbangun dari tidurnya dengan ketakutan. Namun, dia tidak menceritakan mimpinya kepada suami atau kepada siapa pun. Tidak lama kemudian mimpi itu terbukti benar. Suaminya, Ubaidillah bin Jahsy, murtad dari Islam, lalu masuk Nasrani. Kemudian dia terseret ke warung-warung minuman keras, sehingga dia menjadi pemabuk yang tidak kenal puas. Suaminya memberikan dua pilihan yang sama-sama pahit kepada istrinya, Ummu Habibah: cerai atau ikut menjadi orang Nasrani.

Ummu Habibah dengan tiba-tiba mendapati dirinya berada di tengah jalan bersimpang tiga. Pertama, memperkenankan ajakan suaminya yang dengan nyinyir mendesaknya masuk Nasrani. Dengan begitu dia murtad dari Islam, dan kembali kepada kehinaan dunia dan siksa akhirat. Dia telah bertekad tidak akan melakukan hal itu, sekalipun dagingnya akan habis disikat dari tulang belulangnya. Kedua, kembali ke rumah bapaknya di Mekah. Padahal, rumah bapaknya merupakan kubu pertahanan kaum musyrikin. Sudah pasti di sana dia dengan agamanya akan hidup tertindas. Ketiga, tetap tinggal di Habasyah seorang diri sebagai pelarian, tanpa famili, kampung halaman, dan tanpa ada yang membantu dan melindungi.

Ternyata Ummu Habibah memilih yang diridai Allah dari segala-galanya. Dia memutuskan untuk tetap tinggal di Habsyah, sampai Allah memberi jalan keluar baginya.

Ummu Habibah tidak lama menunggu. Sesudah 'iddahnya habis dari suaminya yang tidak lama hidup setelah menjadi Nasrani, dia memperoleh jalan keluar. Tanpa diduga kebahagiaan datang mengunjunginya sambil menari-nari menggerakkan sayap yang bagaikan zamrud di atas rumahnya yang penuh duka.

Pada suatu hari nan cerah, pintu rumahnya diketuk orang. Setelah dibukakan, kiranya yang datang bertamu adalah Abrahah, ajudan khusus baginda Najasyi. Abrahah memberi hormat kepadanya dengan sopan santun dan muka manis, sambil meminta izin masuk. Ummu Habibah menyilakannya masuk penuh kekuatiran.

Kata Abrahah, "Baginda raja mengirim salam untuk Anda. Baginda bertitah, Muhammad Rasulullah melamar Anda untuk pribadinya. Beliau berkirim surat mewakilkan kepada baginda untuk melakukan akad nikahnya dengan Anda. Karena itu, tunjuklah wakil yang Anda sukai untuk melakukan akad nikah ini."

Ummu Habibah seperti hendak terbang kegirangan berteriak sambil berucap dengan suka cita, "Semoga Allah membahagiakan engkau dengan segala kebaikan ...," katanya kepada Abrahah. Mula-mula ditanggalkannya gelang tangan, kemudian gelang kaki, menyusul pula anting dan cincin. Seandainya Ummu Habibah memiliki perbendaharaan dunia, mungkin diberikannya semua kepada Abrahah ketika itu.

Kata Ummu Habibah, "Aku menunjuk Khalid bin Sa'id bin Ash mewakiliku. Karena, dialah keluarga terdekat bagiku."

Istana Najasyi terletak di tempat ketinggian berpohon-pohon yang berbaris rapi, menghadap ke sebuah taman Habasyah nan indah menawan. Dalam sebuah aula yang luas berhias ukiran dan lukisan elok, diterangi lampu-lampu cemerlang, berhamparkan permadani bulu yang indah, telah berkumpul wajah-wajah para sahabat yang bermukim di Habasyah. Di antaranya terdapat pemimpin-pemimpin seperti Ja'far bin Abi Thalib, Khalid bin Sa'id bin Ash, Abdullah bin Hudzafah as-Sahmy, dan lain-lain untuk menyaksikan upacara mulia dan suci, yaitu akad nikah Ummu Habibah binti Abu Sufyan dengan Muhammad Rasulullah saw.

Setelah semua lengkap hadir, Najasyi muncul ke majelis. Baginda berkata, "Aku memuji Allah Yang Maha Qudus, Al-Mukminul Jabar, dan aku bersaksi sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, yang kerasulannya telah diberitakan oleh Isa Ibnu Maryam. Kemudian, bahwasanya Rasulullah saw memintaku untuk mewakilinya dalam pernikahannya dengan Ummu Habibah binti Abu Sufyan, dengan maharnya empat ratus dinar emas, memenuhi sunah Allah dan Rasul-Nya!"

Baginda Najasyi mencurahkan uang dinar ke hadapan Khalid bin Sa'id bin Ash. Khalid berdiri dan berkata, "Segala puji bagi Allah; Aku memuji-Nya; memohon pertolongan-Nya; memohon ampun dan tobat kepada-Nya. Aku mengakui sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, yang diutus dengan agama yang hak, mengatasi segala agama, sekalipun tidak disukai orang-orang kafir."
Kemudian, selaku wakil dari Ummu Habibah aku penuhi permintaan Rasulullah saw. Aku kawinkan beliau dengan Ummu Habibah binti Abu Sufyan. Semoga Allah melimpahkan barakah-Nya bagi perkawinan Rasulullah dengannya. Dan, semoga Ummu Habibah berbahagia dengan kebajikan yang telah ditetapkan Allah baginya."

Sesudah itu Khalid memungut uang yang tercurah di hadapannya, dan bermaksud hendak pergi, untuk menyampaikan uang tersebut kepada Ummu Habibah. Melihat Khalid hendak pergi, para sahabat yang lain berdiri hendak pergi bersama-sama dengan Khalid.
Maka bertitah Najasyi, "Silakan Tuan-Tuan duduk lebih dahulu. Telah menjadi sunah para nabi apabila melakukan upacara perkawinan, mereka mengadakan kenduri dan makan-makan ala kadarnya."

Najasyi menyilakan mereka makan, sesudah makan barulah mereka pergi. Kata Ummu Habibah, "Setelah uang mahar kuterima, maka kukirimkan kepada Abrahah yang menyampaikan berita gembira ini kepadaku sebanyak lima puluh mitsqal. Aku berkata kepadanya, "Telah kuberikan kepadamu segala perhiasanku ketika engkau menyampaikan berita gembira ini kepadaku. Sekarang aku tidak mempunyai harta lagi yang dapat kuberikan kepadamu selain uang ini."

"Tidak lama kemudian Abrahah datang kepadaku mengembalikan uang yang baru kuberikan kepadanya. Kemudian dikeluarkannya sebuah kotak yang bagus berisi perhiasan yang telah kuberikan kepadanya. Lalu, kotak itu diberikannya kepadaku."

Sumber:Kepahlawanan Generasi Sahabat Rasulullah, Abdulrahman Ra'fat Basya

Pelestarian Lingkungan Hidup menurut Islam


Islam adalah Diin yang Syaamil (Integral), Kaamil (Sempurna) dan Mutakaamil (Menyempurnakan semua sistem yang lain), karena ia adalah sistem hidup yang diturunkan oleh Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, hal ini didasarkan pada firman ALLAH SWT : "Pada hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu dan AKU cukupkan atasmu nikmatku, dan Aku ridhai Islam sebagai aturan hidupmu." (QS. 5 : 3). Oleh karena itu aturan Islam haruslah mencakup semua sisi yang dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupannya. Demikian tinggi, indah dan terperinci aturan Sang Maha Rahman dan Rahim ini, sehingga bukan hanya mencakup aturan bagi sesama manusia saja, melainkan juga terhadap alam dan lingkungan hidupnya.
 
 Pelestarian alam dan lingkungan hidup ini tak terlepas dari peran manusia, sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana yang disebut dalam QS Al-Baqarah: 30 (“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”…). Arti khalifah di sini adalah: “seseorang yang diberi kedudukan oleh Allah untuk mengelola suatu wilayah, ia berkewajiban untuk menciptakan suatu masyarakat yang hubungannya dengan Allah baik, kehidupan masyarakatnya harmonis, dan agama, akal dan budayanya terpelihara”. Di samping itu, Surat Ar-Rahman, khususnya ayat 1-12, adalah ayat yang luar biasa indah untuk menggambarkan penciptaan alam semesta dan tugas manusia sebagai khalifah.

 Ayat ini ditafsirkan secara lebih spesifik oleh Sayyed Hossein Nasr, dosen studi Islam di George Washington University, Amerika Serikat.  dalam dua bukunya “Man and Nature (1990)” dan “Religion and the Environmental Crisis (1993)”, yang disajikan sebagai berikut:
“……Man therefore occupies a particular position in this world. He is at the axis and centre of the cosmic milieu at once the master and custodian of nature. By being taught the names of all things he gains domination over them, but he is given this power only because he is the vicegerent (khalifah.) of God on earth and the instrument of His Will. Man is given the right to dominate over nature only by virtue of his theomorphic make up, not as a rebel against heaven.” Jelaslah bahwa tugas manusia, terutama muslim/muslimah di muka bumi ini adalah sebagai khalifah (pemimpin) dan sebagai wakil Allah dalam memelihara bumi (mengelola lingkungan hidup).
 Allah telah memberikan tuntunan dalam Al-Quran tentang lingkungan hidup. Karena waktu perenungan, hanya beberapa dalil saja yang diulas sebagai landasan untuk merumuskan teori tentang lingkungan hidup menurut ajaran Islam.
Dua dalil pertama pembuka diskusi ini bersumber pada Surat Al An’aam 101 dan Al Baqarah 30.

Dalil pertama adalah: “Allah pencipta langit dan bumi (alam semesta) dan hanya Dialah  sumber  pengetahuannya”. Lalu dalil kedua menyatakan bahwa manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Perlu dijelaskan bahwa menjadi khalifah di muka bumi itu bukan sesuatu yang otomatis didapat ketika manusia lahir ke bumi. Manusia harus membuktikan dulu kapasitasnya sebelum dianggap layak untuk menjadi khafilah.

Seperti halnya dalil pertama, dalil ke tiga ini menyangkut tauhid. Hope dan Young (1994) berpendapat bahwa tauhid adalah salah satu kunci untuk memahami masalah lingkungan hidup. Tauhid adalah pengakuan kepada ke-esa-an Allah serta pengakuan bahwa Dia-lah pencipta alam semesta ini. Perhatikan firman Allah dalam Surat Al An’aam 79:
“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan  Tuhan”
Dalil ke empat adalah mengenai keteraturan sebagai kerangka penciptaan alam semesta seperti firman Allah dalam Surat Al An’aam, dengan arti sebagai berikut, “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang..”
Adapun dalil ke lima dapat ditemukan dalam Surat Hud 7 yang menjelaskan maksud dari penciptaan alam semesta, “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa,….Dia menguji siapakah diantara kamu yang lebih baik amalnya.”
Itulah salah satu tujuan penciptaan lingkungan hidup yaitu agar manusia dapat berusaha dan beramal sehingga tampak diantara mereka siapa yang taat dan patuh kepada Allah.
Dalil ke enam adalah kewajiban bagi manusia untuk selalu tunduk kepada Allah sebagai maha pemelihara alam semesta ini. Perintah ini jelas tertulis dalam Surat Al An’aam 102 yaitu, “..Dialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu”
Dalil ke tujuh adalah penjabaran lanjut dari dalil kedua yang mewajibkan manusia untuk melestarikan lingkungan hidup. Adapun rujukan dari dalil ini adalah Surat Al A’raaf 56 diterjemahkan sebagai berikut;

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya……..” Selanjutnya dalil ke delapan mengurai tugas lebih rinci untuk manusia, yaitu menjaga keseimbangan lingkungan hidup, seperti yang difirmankanNya dalam surat Al Hijr 19, ”Dan kami telah  menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.”
Dalil ke sembilan menunjukkan bahwa proses perubahan diciptakan untuk memelihara keberlanjutan (sustainability) bumi. Proses ini dikenal dalam literatur barat sebagai: siklus Hidrologi.
Dalil ini bersumber dari beberapa firman Allah seperti Surat Ar Ruum 48, Surat An Nuur 43, Surat Al A’raaf 57, Surat An Nabaa’ 14-16, Surat Al Waaqi’ah 68-70, dan beberapa Surat/Ayat lainnya. Penjelasan mengenai siklus hidrologi dalam berbagai firman Allah merupakan pertanda bahwa manusia wajib mempelajarinya. Perhatikan isi Surat Ar Ruum: 48 dengan uraian siklus hidrologi berikut ini. Hujan seharusnya membawa kegembiraaan karena menyuburkan tanah dan merupakan sumber kehidupan.
Surat Ar Ruum 48 Siklus hidrologi
Mencakup proses evaporasi, kondensasi, hujan, dan aliran air ke sungai/danau/laut, Al-Qur’an dengan sangat jelas menjabarkannya. Evaporasi, adalah naiknya uap air ke udara. Molekul air tersebut kemudian mengalami pendinginan yang disebut dengan kondensasi. Kemudian terjadi peningkatan suhu udara, yang menciptakan hujan. Air hujan tersebut menyuburkan bumi dan kemudian kembali ke badan air (sungai, danau atau laut.
Ini dengan jelas digambarkan dalam Al-Qur’an surat ar-Ruum:48 yang berbunyi;
 “Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hambahamba-Nya yang dikehendakinya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.”
Sebagai khalifah, sudah tentu manusia harus bersih jasmani dan rohaninya. Inilah inti dari dalil ke sepuluh bahwa kebersihan jasmani merupakan bagian integral dari kebersihan rohani.
Merujuk pada Surat Al-Baqarah 222; “….sesungguhnya Allah senang kepada orang yang bertobat, dan senang kepada orang yang membersihkan diri.” Serta Surat Al-Muddatstsir 4-5;  “..dan bersihkan pakaianmu serta tinggalkan segala perbuatan dosa.”
Meski slogan yang dikenal umum seperti “kebersihan adalah sebagian dari iman”, banyak diakui sebagai hadis dhaif, namun demikian, Rasulluah S.A.W. bersabda bahwa iman terdiri dari 70 tingkatan: yang tertinggi adalah pernyataan “tiada Tuhan selain Allah” dan yang terendah adalah menjaga kerbersihan. Jadi, memelihara lingkungan hidup adalah menjadi bagian integral dari tingkat keimanan seseorang. Khususnya beragama Islam.
Mengutip disertasi Abdillah (2001), Surat Luqman ayat 20 Allah berfirman, “Tidakkah kau cermati bahwa Allah telah menjadikan sumber daya alam dan lingkungan sebagai daya dukung lingkungan bagi kehidupanmu secara optimum. Entah demikian, masih saja ada sebagian manusia yang mempertanyakan kekuasaan Allah secara sembrono. Yakni mempertanyakan tanpa alasan ilmiah, landasan etik dan referensi memadai.”

Selain itu, Abdillah juga mengutip bahwa manusia harus mempunyai ketajaman nalar, sebagai prasyarat untuk mampu memelihara lingkungan hidup. Hal ini bisa dilihat Surat Al Jaatsiyah 13 sebagai berikut; “Dan Allah telah menjadikan sumber daya alam dan lingkungan sebagai daya dukung lingkungan bagi kehidupan manusia. Yang demikian hanya ditangkap oleh orang-orang yang memiliki daya nalar memadai.”

Dalil-dalil di atas adalah pondasi dari teori pengelolaan lingkungan hidup yang dikenal dengan nama “Teorema Alim” yang dirumuskan sebagai berikut:
Misi manusia sebagai khalifah di muka bumi adalah memelihara lingkungan hidup, dilandasi dengan visi bahwa manusia harus lebih mendekatkan diri pada Allah.  Perangkat utama dari misi ini adalah kelembagaan, penelitian, dan keahlian. Adapun tolok ukur pencapaian misi ini adalah mutu lingkungan. Berdasarkan “Teorema Alim” ini, kerusakan lingkungkan adalah cerminan dari turunnya kadar keimanan manusia.
Rasulullah S.A.W. dan para sahabat telah memberikan teladan pengelolaan lingkungan hidup yang mengacu kepada tauhid dan keimanan. Seperti yang dilaporkan Sir Thomas Arnold (1931) bahwa Islam mengutamakan kebersihan sebagai standar lingkungan hidup. Standar inilah yang mempengaruhi pembangunan kota Cordoba. Menjadikan kota ini memiliki tingkat peradaban tertinggi di Eropa pada masa itu. Kota dengan 70 perpustakaan yang berisi ratusan ribu koleksi buku, 900 tempat pemandian umum, serta pusatnya segala macam profesi tercanggih pada masa itu. Kebersihan dan keindahan kota tersebut menjadi standar pembangunan kota lain di Eropa.
Contoh lain adalah inovasi rumah sakit dan manajemennya (Arnold, 1931). Pada masa itu manajemen rumah sakit sudah sedemikian canggihnya sebagai pusat perawatan dan juga pusat pendidikan calon-calon dokter. Rumah sakit tersebut sudah memiliki ahli bedah, ahli mata, dokter umum, perawat, dan administrator. Tercatat 34 rumah sakit yang tersebar dari Persia ke Maroko serta dari Siria Utara sampai ke Mesir. Rumah sakit pertama yang berdiri di Kairo pada tahun 872 Masehi, bahkan beroperasi selama 700 tahun kemudian. Inovasi bidang kesehatan ini bahkan berkembang sampai pada penemuan ambulan atau menurut Arnold (1931) sebagai “traveling hospital”.
 Teorema Alim ini mengandung dua unsur yaitu misi dan tolok ukur. Misi dapat diemban apabila diiringi visi mendekatkan diri pada Allah dan dibekali ketajaman nalar, yaitu kelembagaan, keahlian, dan kegiatan. Tolok ukur yang jelas adalah mutu lingkungan hidup di Indonesia sebagai  rambu-rambu untuk menilai keberhasilan pelaksanaan misi manusia yaitu mencegah bumi dari kerusakan lingkungan.
 Dapat dikatakan Indonesia telah memiliki perangkat yang cukup untuk mencapai misi yaitu kelembagaan dalam bidang lingkungan hidup (Menteri Negara Lingkungan Hidup, Pusat Studi Lingkungan Hidup, dan lainnya), tak terbilang jumlah doktor yang mendalami ilmu lingkungan, serta intensitas yang tinggi dalam penelitian lingkungan. Namun simaklah sekali lagi berbagai persoalan lingkungan hidup di Indonesia berikut ini. Menatap langit di sepanjang jalan Sudirman, seorang awam sudah tahu bahwa udara Jakarta memang beracun. Penyakitpun datang silih berganti, dan kali ini penyakit mematikan seperti HIV, SAR, demam berdarah, dan flu burung berjangkit di mana-mana.
Terlebih lagi air sungai sungguh sangat kotor karena pembuangan sampah padat. Sungai Ciliwung, misalnya, setiap hari menampung 1,400 M3 sampah (Kompas, 1996). Hal ini berarti bahwa kurang lebih 200-400 truk membuang sampah padat ke sungai tersebut setiap harinya! Pelayanan air minum juga sangat rendah. Alim (2005) melaporkan bahwa baru sekitar 40 persen penduduk mendapat pelayanan air bersih, dan dari total volume air yang disalurkan hanya 20% yang layak digunakan karena umumnya air yang sampai ke rumah masih berlumpur.
 Hal ini diperburuk oleh kondisi pemerintahan di Indonesia karena aparat yang ingkar amanah. Salah satu contoh kebohongan pemerintah adalah kasus kebakaran hutan. Soentoro (1997) melaporkan bahwa kebakaran hutan yang terjadi pada tahun 1997 telah menghanguskan 1 juta hektar hutan, nyatanya pemerintah melaporkan 300,000 hektar saja. 

Masalah tidak transparannya birokrasi sudah lama mengganjal jalannya roda pemerintahan.
Sudah jelas bahwa ketajaman nalar yang tidak diiringi oleh kadar keimanan tinggi serta jauhnya umat Islam dari Allah, telah menciptakan masalah lingkungan hidup.

Menyadari runyamnya masalah lingkungan hidup, langkah pertama pemecahannya adalah peningkatan “ukhuwah” (kerjasama) antar ilmuwan dan alim-ulama agar bahu-membahu mampu mengemban amanat Allah untuk memelihara bumi. Salah satu hasil kerjasama tersebut adalah program pelatihan bagi para tokoh agama untuk memperdalam wawasan lingkungan hidup. Solusi jangka pendek lainnya adalah penyusunan program pemeliharaan lingkungan sebagai materi khutbah jumat, serta penerbitan fatwa untuk menghentikan pencemaran sungai.
Untuk jangka panjang perlu digarap sektor pendidikan dimana perlu dikembangkan bidang ilmu ataupun kurikulum yang menjadian ilmu pelestarian lingkungan hidup adalah bagian integral dari kajian ajaran Islam. Pengembangan disiplin ini juga perlu mempertimbangkan ukhuwah yang bersifat internasional, karena persoalan lingkungan hidup juga telah membebani negara muslim lainnya. Dengan pendidikan akan tumbuh kesadaran bahwa lingkungan hidup bukan bidang yang menjadi monopoli peradaban barat, tetapi merupakan bagian integral dari keimanan.
Salah satu contoh pendekatan pelestarian lingkungan melalui Al-Qur’an dan Al-Hadits yang berhasil adalah di Tanzania. Bekerjasama dengan CARE-organisasi bantuan untuk memberantas kemiskinan di dunia-IFEES menggelar pertemuan dengan para pemuka agama dan para nelayan untuk mendiskusikan bagaimana hubungan antara ayat-ayat yang ada dalam al-Quran dengan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan. Dengan menggunakan ayat-ayat al-Quran serta hadist, mereka berusaha meyakinkan para nelayan untuk tidak lagi menggunakan dinamit, jala dan tombak ketika menangkap ikan.
IFEES juga bekerjasama dengan Misali Island Conservation (MICA)-lembaga yang bergerak dalam perlindungan terumbu karang-untuk melatih para imam-imam masjid di Tanzania agar mampu menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan lewat khutbah-khutbah Jumat mereka. IFEES yang berbasis di Inggris, adalah salah satu organisasi yang pada tahun 1998 meluncurkan proyek penyadaran kelestarian lingkungan dengan menggunakan basis ajaran Islam. "Kami mencari ajaran-ajaran yang sudah terlupakan itu dan mengumpulkannya kembali dalam bentuk yang modern, " kata Khalid.
"Saya sekarang tahu bahwa cara saya menangkap ikan selama ini sudah merusak lingkungan. Konservasi ini bukan dari mzungu (kata untuk menyebut orang kulit putih dalam bahasa Swahili, yang digunakan di seluruh Afrika Timur-red), tapi dari al-Quran, " ujar Salim Haji, seorang nelayan di sebuah pulau kecil. Proyek ini membuahkan hasil setahun setelah diluncurkan, terutama di Misali dan kepulauan Zanzibar yang didominasi warga Muslim. Saat ini, banyak nelayan di Misali yang sudah mengganti alat penangkap ikannya dengan alat yang lebih ramah lingkungan dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
****Nishi Chiba, 17 Mei 2008*
Nabiel Fuad Al-Musawa. Islam dan Lingkungan Hidup, Kota Santri.com, Publikasi 13-05-2005 @ 18:06
 Dr. M. Quraish Shihab, MEMBUMIKAN AL-QURAN Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Penerbit Mizan, Cetakan 13, 1996 
Fazlun M. Khalid, pendiri Islamic Foundation for Ecology and Environmental Sciences (IFEES) di Birmingham, Inggris. Islam dan Lingkungan Hidup, Green Press Network, 20 November 2007
Dr. Ir. Yusmin Alim, MSc. Lingkungan dan Kadar Iman Kita, Hidayatullah.com, 27 Juni 2006
Dr. Ir. Yusmin Alim, MSc. Lingkungan dan Aksioma Kerakusan, Hidayatullah.com, 4 Juli 2006
Al-Quran dan Hadist Terbukti Ampuh Menjaga Kelestarian Lingkungan Hidup, Eramuslim, 1 November 2007
Sumber : http://fithab.multiply.com/journal/item/222

Wafatnya Tsa’labah bin Abdurrahman


Seorang pemuda dari kaum Anshar yang bernama Tsa'labah bin Abdurrahman telah masuk Islam. Dia sangat setia melayani Rasulullah SAW. Suatu ketika Rasulullah SAW mengutusnya untuk suatu keperluan. Dalam perjalanannya dia melalui rumah salah seorang dari Anshar, maka terlihat dirinya seorang wanita Anshar yang sedang mandi...
----------

Seorang pemuda dari kaum Anshar yang bernama Tsa'labah bin Abdurrahman telah masuk Islam. Dia sangat setia melayani Rasulullah SAW. Suatu ketika Rasulullah SAW mengutusnya untuk suatu keperluan. Dalam perjalanannya dia melalui rumah salah seorang dari Anshar, maka terlihat dirinya seorang wanita Anshar yang sedang mandi. Dia takut akan turun wahyu kepada Rasulullah SAW menyangkut perbuatannya itu. Maka dia pun pergi kabur. Dia menuju ke sebuah gunung yang berada di antara Mekkah dan Madinah dan terus mendakinya.

Selama empat puluh hari Rasulullah SAW kehilangan dia. Lalu Jibril AS turun kepada Nabi SAW dan berkata, "Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu menyampaikan salam buatmu dan berfirman kepadamu, "Sesungguhnya seorang laki-laki dari umatmu berada di gunung ini sedang memohon perlindungan kepada-Ku.""

Maka Nabi SAW berkata, "Wahai Umar dan Salman! Pergilah cari Tsa'laba bin Aburrahman, lalu bawa kemari." Keduanya pun lalu pergi menyusuri perbukitan Madinah. Dalam pencariannya itu mereka bertemu dengan salah seorang penggembala Madinah yang bernama Dzufafah. Umar bertanya kepadanya, "Apakah engkau tahu seorang pemuda di antara perbukitan ini?" Penggembala itu menjawab, "Jangan-jangan yang engkau maksud seorang laki-laki yang lari dari neraka Jahanam?" "Bagaimana engkau tahu bahwa dia lari dari neraka Jahanam?" tanya Umar. Dzaufafah menjawab, "karena, apabila malam telah tiba, dia keluar kepada kami dari perbukitan ini dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, "Mengapa tidak cabut saja nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti keputusan!" "Ya, dialah yang kami maksud," tegas Umar. Akhirnya mereka bertiga pergi bersama-sama.

Ketika malam menjelang, keluarlah dia dari antara perbukitan itu dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, "Wahai, seandainya saja Engkau cabut nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti-nanti keputusan!" Lalu Umar menghampirinya dan mendekapnya. Tsa'labah berkata, "Wahai Umar! Apakah Rasulullah telah mengetahui dosaku?" "Aku tidak tahu, yang jelas kemarin beliau menyebut-nyebut namamu lalu mengutus aku dan Salman untuk mencarimu." Tsa'labah berkata, "Wahai Umar! Jangan kau bawa aku menghadap beliau kecuali dia dalam keadaan sholat"

Ketika mereka menemukan Rasulullah SAW tengah melakukan sholat, Umar dan Salman segera mengisi shaf. Tatkala Tsa'laba mendengar bacaan Nabi saw, dia tersungkur pingsan. Setelah Nabi mengucapkan salam, beliau bersabda, "Wahai Umar! Salman! Apakah yang telah kau lakukan Tsa'labah?" Keduanya menjawab, "Ini dia, wahai Rasulullah saw!" Maka Rasulullah berdiri dan menggerak-gerakkan Tsa'labah yang membuatnya tersadar. Rasulullah SAW berkata kepadanya, "Mengapa engkau menghilang dariku?" Tsa'labah menjawab, "Dosaku, ya Rasulullah!" Beliau mengatakan, "Bukankah telah kuajarkan kepadamu suatu ayat yang dapat menghapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan?" "Benar, wahai Rasulullah." Rasulullah SAW bersabda, "Katakan•Ya Tuhan kami, berilah kami sebahagian di dunia dan di akhirat serta peliharalah kami dari azab neraka." (QS Al-Baqarah:201)

Tsa'labah berkata, "Dosaku, wahai Rasulullah, sangat besar." Beliau bersabda,"Akan tetapi kalamullah lebih besar." Kemudian Rasulullah menyusul agar pulang ke rumahnya. Di rumah dia jatuh sakit selama delapan hari. Mendengar Tsa'labah sakit, Salman pun datang menghadap Rasulullah SAW lalu berkata, "Wahai Rasulullah! Masihkah engkau mengingat Tsa'labah? Dia sekarang sedang sakit keras." Maka Rasulullah SAW datang menemuinya dan meletakkan kepala Tsa'labah di atas pangkuan beliau. Akan tetapi Tsa'labah menyingkirkan kepalanya dari pangkuan beliau.

"Mengapa engkau singkirkan kepalamu dari pangkuanku?" tanya Rasulullah SAW. "Karena penuh dengan dosa." Jawabnya. Beliau bertanya lagi, "Bagaimana yang engkau rasakan?" "Seperti dikerubuti semut pada tulang, daging, dan kulitku." Jawab Tsa'labah. Beliau bertanya, "Apa yang kau inginkan?" "Ampunan Tuhanku," Jawabnya.

Maka turunlah Jibril as. dan berkata, "Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu mengucapkan salam untukmu dan berfirman kepadamu, "Kalau saja hamba-Ku ini menemui Aku dengan membawa sepenuh bumi kesalahan, niscaya Aku akan temui dia dengan ampunan sepenuh itu pula." Maka segera Rasulullah SAW memberitahukan hal itu kepadanya. Mendengar berita itu, terpekiklah Tsa'labah dan langsung ia meninggal.

Lalu Rasulullah SAW memerintahkan agar Tsa'labah segera dimandikan dan dikafani. Ketika telah selesai disholatkan, Rasulullah SAW berjalan sambil berjingkat-jingkat. Setelah selesai pemakamannya, para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah! Kami lihat engkau berjalan sambil berjingkat-jingkat." Beliau bersabda, "Demi Zat yang telah mengutus aku sebagai seorang nabi yang sebenarnya! karena, banyaknya malaikat yang turut menziarahi Tsa'labah."