Qiyam adalah
aktivitas ibadah shalat di malam
hari. Shalat harus dilakukan dengan berdiri (qiyam). Di bulan Ramadhan, shalat
taraweh disebut qiyamullail (berdiri di malam hari), sedangkan di luar Ramadhan
adalah shalat tahajjud.
Hakikat
Qiyam atau sholat malam
adalah bangun dan tegak lurus sambil berdiri beribadah kepada Allah. Jika di
siang hari kita melakukan puasa (shiyam) itu adalah manajemen syahwat,
maka di balik kata Qiyam (sholat malam) dapat pula kita maknai sebagai
manajemen ibadah.
Terdapat
tiga prinsip dasar dalam memaknai sholat malam dalam arti manajemen ibadah. Pertama,
tegak lurus berdiri beribadah pada Allah. Kedua, kesiapan diri
meluruskan dan menyatukan semua orientasi
hidup dan aktivitas hidup dari bermacam-macam menjadi hanya kepada Allah dan
untuk Allah semata.
Inilah inti
komitmen yang selalu kita baca ketika membaca do’a iftitah dalam sholat (QS. Al-Am’aan (6)
: 161-163]. Ketiga, mengelola ibadah berdasarkan aturan, sistem, dan ketentuan
Allah, baik tujuannya, caranya maupun skala prioritasnya.
Mukjizat
ibadah Ramadhan akan kita rasakan jika berbagai ibadah tersebut kita kelola dan
kerjakan bedasarkan tiga prinsip dasar tersebut di atas. Sebab itu ibadah Qiyam
Ramadhan (sholat malam) adalah lambang kesiapan kita untuk berdiri dan
mengemban semua amanah
dan kewajiban yang Allah pikulkan ke pundak kita semasa kita hidup di dunia
ini.
Kita tidak
punya pilihan selain memikulnya. Ini adalah bukti bahwa kita adalah hamba-Nya
yang tidak punya daya dan upaya sedikitpun di hadapan kehendak dan kemauan-Nya.
Sesungguhnya
amanah dan kewajiban yang dibebankan Allah kepada kita adalah sebuah kemuliaan
dan perdagangan yang selalu untung dan tidak pernah rugi. Amanah memahami,
mengamalkan, dan memperjuangkan Al-Qur’an agar menjadi the way of life kita dan
manusia lainnya.
Amanah shalat,
amanah pengorbanan dengan harta
dan mencari solusi kesulitan ekonomi masyarakat dan berbagai amanah lainnya,
seperti dijelaskan Allah dalam kitab-Nya :
“Sesungguhnya
orang-orang yang selalu membaca kitah Allah dan mendirikan shalat dan
menafkahkan sebagian rezki yqng kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam
dan terang-terangan, mereka itu mengharap perniagaan yang tidak akan merugi,
(29) agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada
mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri
(30)” {QS. Fathir (35) :
29-30}
Sholat malam
di bulan Ramadhan adalah lambang kesiapan kita untuk selalu mengoreksi dan
meluruskan orientasi hidup kita yang di siang hari bisa saja terpengaruh oleh
berbagai godaan dan janji kosong setan dan kemilau kehidupan dunia. Atau bisa juga disebabkan keras dan
kejamnya sistem hidup yang ada dalam masyarakat dan pemerintahan yang ada
sehingga hidup ini terasa amat sulit dan penuh kezaliman.
Sebab itu,
Ramadhan mengajarkan kita untuk mengoreksi dan meluruskan orientasi hidup itu
setiap malam. Targetnya adalah agar kita memiliki karakter yang kuat dalam
menghadapi percaturan hidup
ini sehingga orientasi hidup kita tetap terpelihara dan tidak condong serta
mengarah kepada selain Allah.
Karena
perubahan orientasi hidup kepada selain Allah, atau kecenderungan kepada selain
Allah akan mengakibatkan perubahan jalan hidup yang di tempuh. Inilah yang kita
minta selalu dalam shalat fardhu maupun sholat malam Ramadhan dan di luar
Ramadhan :
“Tunjukilah
kami ke jalan yang lurus (6), yaitu jalan orang yang tidak Engkau murkai atas
mereka, dan tidak pula jalan hidup orang yang tersesat (7).” [QS. Al-Fatihah (1):
6-7]
Sesungguhnya
perubahan orientasi hidup kepada selain Allah adalah kekufuran dan kemusyrikan
yang akan menghancurkan hidup kita baik di dunia maupun di akhirat.
Komitmen untuk tetap menjaga orientasi hidup hanya untuk Allah merupakan
komitmen yang selalu kita ucapkan saat kita Qiyamullail dan juga Shalat lainnya
:
“Katakanlah,
sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah,
Tuhan semesta Alam (162) Tiada sekutu hagiNya; dan demikian itulah yang
diperinlahkan kepadaku dan aku adalah orang yang perlama-tama menyerahkan diri
(kepada Allah). (163)” {QS. Al-An’am (6)
: 162-163}
Qiyam
Ramadhan juga lambang kesiapan kita untuk mengikuti berbagai ibadah dan sistem
hidup yang Allah Syari’atkan berdasarkan tujuan dan niat, cara dan skala
prioritas yang Allah tetapkan dan Rasulullah contohkan.
Jangan ada
satupun ibadah yang kita lakukan, baik fardhu maupun yang sunnah, baik yang
fardhu ‘ain maupun yang fardhu kifayah yang melenceng niatnya kepada selain
Allah, seperti shalat untuk terhindar dari tekanan darah tinggi, shaum untuk
mendapat tubuh yang langsing, infaq untuk menjadi kaya, dan qiyamullail agar
berwibawa dihadapan manusia, menegakkan hukum Allah (syari’at Islam) untuk
berkuasa dan sebagainya.
Semua ibadah
dan ketaatan harus ditujukan hanya mencari ridha Allah. Kebaikan-kebaikan yang
muncul dalam diri dan kehidupan duniawi sebagai buah dari ibadah tak lain hanya
bonus duniawi yang Allah berikan. Sebab itu jangan tertipu oleh bonus-bonus
duniawi itu, karena jika dibandingkan dengan imbalan akhirat berupa syurga-Nya,
tentulah tidak ada artinya.
“Dan
mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mendirikan shalat
dan menunaikan zakat; dan demikian itulah agama yang lurus.” {QS. Al-Bayyinah(98):
5}
Qiyam
Ramadhan juga sarana pelatihan diri kita untuk melakukan semua ibadah sesuai
dengan yang Allah syari’atkan dan Rasulullah ajarkan. Jangan sampai dalam
melakukan ibadah. baik wajib maupun sunnah keluar dari kaifiyat (tata cara)-nya
yang telah dicontohkan Rasul Saw.
Di samping
itu Qiyam Ramadhan mengajarkan kita untuk selalu mengikuti semua ibadah dan
sistem hidup yang Allah syari’atkan dan Rasulullah amalkan berdasarkan urutan
dan prioritasnya. Jangan sampai melaksanakan shalat idul fitri dan
idul adha lebih semangat ketimbang shalat jum’at.
Jangan
sampai shalat taraweh lebih semangat kita kerjakan ketimbang shalat fardhu
berjamaah di masjid lima kali dalam sehari semalam. Jangan sampai infaq lebih
semangat kita lakukan ketimbang menunaikan zakat dan begitulah seterusnya.
Qiyam
Ramadhan mengajarkan dan melatih kita untuk mendahulukan amal-amal yang wajib
dari amal-amal yang sunnah dan fardhu ‘ain sebelum fardhu kifayah. Namun
demikian bukan berarti kita mencukupkan amal ibadah kita pada yang wajib saja
dan tidak tertarik melakukan yang sunnah (nawafil).
Keduanya
harus kita kerjakan dengan ikhlas dan bcrsungguh-sungguh. Karena urutan untuk
mencapai kedekatan dan kasih sayang Allah adalah dengan memulai amalan atau
ibadah yang wajib (fardhu), kemudian di teruskan dengan yang sunnah. Dalam
sebuah hadist Qudsi di jelaskan :
Sesungguhnya
Allah herfirman: “Barang siapa yang memusuhi wali-Ku maka sungguh Aku
umumkan perang atasnya. Dan tidak ada jalan yang dilakukan hamba-Ku dalam
rangka mendekatkan diri pada-Ku lebih aku cintai selain dari apa yung Aku
fardhukan atasnya. Apabila hamba-Ku terus menerus melakukan pendekatan diri
(taqarrub) kepada-Ku dengan amalan yang nawafil (sunnah) sampai Aku
mencintainya. Bila Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya bila ia
mendengar, penglihatannya bila ia melihat, tangannya bila ia memikul, kakinya
apa bila ia berjalan dan apabila ia meminta pasti akan aku kabulkan dan apabila
ia meminta perlindungan pasti akan aku lindungi. Tidak ada sedikitpun Aku melakukan
sesuatu seperti keraguan-ku (mencabut) jiwa (nyawa) seorang Mukmin yang
membenci kematian, sedangkan Aku tidak mau menyakitinya.” (HR. Imam
Bukhari).
Hadits Qudsi
tersebut dcngan tegas menyatakan bahwa :
- Dalam melakukan ibadah kepada Allah atau menerapkan sistem hidup yang disyari’atkan-Nya kepada kita haruslah dengan prinsip prioritas. Sedangkan prinsip prioritas itu harus menurut Allah itu sendiri.
- Untuk dapat mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ilallah) harus dimulai dari apa yang Allah wajibkan pada kita, baik terkait dengan individu, rumah tangga, masyarakat maupun sistem hidup dalam pemerintah.
- Untuk mendapat kasih sayang Allah (menjadi wali Allah), amal-amal yang bersifat sunnah seperti, shalat sunnah, shaum sunnah dan sebagainya, haruslah menjadi kebiasaan (habit) yang dilakukan tanpa mengenal waktu dan kondisi. Pelaksanaannya melekat dalam diri, sama halnya dengan ibadah-ibadah fardhu yang lain.
- Karena ibadah sunnah sangat banyak dan luas jangkauannya, maka setiap kita hendaklah memulai dari ibadah sunnah yang Allah mudahkan dan kemudian dikembangkan kepada ibadah-ibadah sunnah lainnya. Kita harus mengetahui potensi diri kita terkait dengan ibadah sunnah. Setelah diketahui, hendaklah dilakukan secara terus menerus (mudawamah), karena terus menerus menjadi syarat untuk mcndapatkan kasih sayang Allah.
- Apabila kita komitmen menjalankan yang fardhu (wajib), kemudian diteruskan dengan amal ibadah yang sunnah secara kontinyu, maka peluang kita mendapat kasih sayang Allah sangatlah besar. Atau dengan kata lain, peluang menjadi wali Allah sangat terbuka lebar.
- Bila seorang Mukmin telah meraih kedekatan dan kasih sayang Allah, saat itulah ia menjadi wali Allah. Kemenangan dan kebahagiaan dunia dan akhirat akan menyertainya.
Sumber:
Mukjizat Ibadah Ramadhan oleh ust. Fathuddin Ja’far
Tidak ada komentar:
Posting Komentar